Mimpi yang membuat ‘Umar bin ‘Abdul’aziz menangis

Abu Hazim bercerita, “Aku pernah mengunjungi ‘Umar bin ‘Abdul’aziz saat ia telah menjadi khalifah. Saat ia melihatku ia mengenaliku sedangkan aku tidak mengenalinya. Ia memanggilku dan memintaku untuk mendekat. Aku pun mendekatinya dan bertanya, ‘Anda Amirul Mukminin?’ ‘Benar,’ jawabnya. ‘Bukankah saat Anda menjadi gubernur Madinah kendaraan Anda bagus, pakaian Anda bersih, wajah Anda tak berdebu, makanan Anda mengundang selera, istana Anda megah, dan pembantu Anda tidak sedikit?’ tanyaku. ‘Apa yang merubah Anda sedangkan Anda adalah Amirul Mukminin?’
‘Umar menangis dan berkata, ‘Wahai Abu Hazim, bagaimana jika kamu melihatku tiga hari setelah aku dikuburkan? Saat kedua biji mataku telah menggelinding lepas, lidahku telah mengering, perutku telah robek, dan belatung mengerubungi sekujur tubuhku? Pastilah kamu lebih tidak mengenaliku lagi. Sekarang bacakan sebuah hadits yang pernah kamu bacakan dulu sewaktu kita di Madinah!’
Aku pun memenuhinya, ‘Wahai Amirul Mukminin, saya mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian ada jalan yang sulit, penuh rintangan, dan mengkhawatirkan. Tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap orang yang teguh dan punya ketetapan hati.’
‘Umar menangis lama sekali, kemudian berkata, ‘Wahai Abu Hazim, pantaskah bagiku untuk bertekad menempuh jalan itu dengan berharap akan selamat dari rintangannya pada hari itu? Aku tidak pernah yakin dapat menjalani ujian yang menimpaku ini dengan selamat.’ Kemudian keringatnya mengucur deras di hari yang panas. Allah lebih tahu bagaimana keadaannya. Lantas ia tersenyum. Aku buru-buru menimpali ucapannya mendahului orang-orang, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku lihat ada ‘ujub dalam dirimu. Ketika kamu tidur keringat mengucur deras dari tubuhmu hingga basah sekelilingmu, lalu kamu menangis sampai terdengar isakanmu, dan kemudian kamu tersenyum?’
‘Umar bertanya, ‘Wahai Abu Hazim, kamu melihatnya?’ ‘Ya,’ jawabku. Kemudian ‘Umar memberikan penjelasan, ‘Wahai Abu Hazim, ketika kuletakkan kepalaku dan aku tidur, terlihat olehku seakan Kiamat sudah terjadi. Semua makhluk berkumpul. Dikatakan, mereka berbaris 120 shaf memenuhi ufuk. Mereka adalah umat Muhammad saw. Di antara mereka ada 80 shaf yang berjalan tertunduk dua-dua menuju sesosok penyeru. Mereka diseru untuk menjalani hisab. Tiba-tiba ada suara, ‘Mana ‘Abdullah bin ‘Utsman Abu Bakar ash-Shiddiq?’ Ia menjawab, lalu ia diambil oleh malaikat. Ia dihadapkan kepada Rabb-nya lalu dihisab dan ia selamat. Ia dibawa ke arah kanan.
Kemudian giliran ‘Umar dipanggil. Ia dibawa oleh malaikat dan dihadapkan kepada Rabb-nya. Ia dihisab lalu selamat dan diperintahkan menuju surga.
Tiba giliran ‘Utsman diseru. Ia menjawab dan dihisab dengan hisab yang ringan lantas diperintahkan menuju surga. Setelah itu ‘Ali bin Abu Thalib diajukan, dihisab, dan diperintahkan untuk masuk surga. Ketika semakin dekat giliranku aku terjatuh pada tanganku. Lalu didatangkan kaum yang aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Kemudian terdengar seruan, ‘Mana ‘Umar bin ‘Abdul’aziz? Keringat mengucur deras dari tubuhku. Aku ditanya tentang kain, kayu, kulit ari, dan semua permasalahan yang aku putuskan lalu aku diampuni. Setelah itu aku melewati sebujur mayat yang tergeletak. Aku bertanya kepada malaikat, ‘Siapa ini?’
Malaikat menjawab, ‘Kalau kamu mengajaknya berbicara ia akan menjawabmu.’
Aku pun menyentuhnya dengan kakiku. Ia mengangkat kepalanya menengadah ke arahku. Ia membuka kedua matanya dan bertanya, ‘Siapa kamu?’
‘Aku ‘Umar bin ‘Abdul’aziz,’ jawabku.
‘Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?’ tanyanya.
‘Allah memberi anugerah kepadaku, memutuskan untukku dan memutuskan untuk mereka,’ jawabku.
‘Selamat atas apa yang terjadi padamu,’ ucapnya.
Lantas aku bertanya, ‘Siapa kamu?’
‘Aku al-Hajjaj,’ jawabnya, ‘Aku menghadap Allah dan aku dapati Dia sangat berat hukuman-Nya. Aku dibunuhnya dengan segala bentuk pembunuhan. Kini aku di hadapan Allah menunggu keputusan Allah bagi orang-orang yang bertauhid, apakah ke surga ataukah ke neraka.’
Aku pun berjanji kepada Allah ‘azza wa jalla setelah mendengar kisah mimpi ‘Umar untuk tidak memastikan seseorang menjadi penghuni neraka selama ia termasuk orang yang mengucapkan: Laa ilaaha illallaah.”
‘Umar bin ‘Abdul’aziz menangis saat mengingat kematian dan alam kubur
Abu Farwah menuturkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah mengantarkan beberapa jenazah orang-orang Bani Umayyah. Setelah jenazah dishalati dan dikuburkan ‘Umar mempersilakan orang-orang untuk meninggalkan area pekuburan. Sedangkan ia sendiri berlambat-lambat di sana. Sesampainya di rumah kedua matanya memerah dan urat-uratnya tegang. Orang-orang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, Anda datang terlambat. Apa yang menghalangi Anda?” ‘Umar menjawab, “Aku mendatangi area pekuburan orang-orang yang aku cintai, pekuburan leluhurku. Aku ucapkan salam kepada mereka namun tak ada yang menjawabnya.
Ketika kulangkahkan kaki untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan leluhurmu?” “Apa yang terjadi dengan mereka?” tanyaku. Suara itu terdengar menjawab, “Kain kafan telah compang-camping dan belatung telah berpesta.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan kedua mata mereka?” “Apa yang terjadi dengan kedua mata mereka?” tanyaku. Suara itu menjawab, “Daya pandangnya habis dan biji matanya sudah tak tersisa.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan jasad mereka?” “Apa yang terjadi dengan jasad mereka?” tanyaku. Suara itu menjawab, “Kedua telapak tangan patah pada pergelangannya. Pergelangan tangan patah pada tengah lengan. Lengan patah sampai siku-siku. Kedua pundak terlepas dari kedua sisi. Kedua sisi patah sampai tulang punggung. Tulang punggung patah pada pangkal paha. Pangkal paha patah sampai tengah paha. Paha patah pada lutut. Lutut patah sampai betis. Dan betis terpisah dari telapak kaki.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, siapkanlah kafan yang tak akan usang!” “Apa itu kafan yang tidak akan usang?” tanyaku. “Yaitu takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya.”
Kemudian ‘Umar menangis dan berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya langgengnya dunia ini sebentar, orang yang terhormat karenanya sebenarnya terhina, orang yang kaya dengannya sebenarnya fakir, orang mudanya akan menjadi tua, dan orang yang hidup di sana akan mati. Oleh karena itu janganlah kalian tertipu oleh kedatangannya sementara kalian tahu bahwa ia akan segera berlalu. Sebenar-benar orang yang tertipulah orang yang tertipu dengannya. (Lihatlah sekarang!) Di mana orang-orang yang telah membangun kota-kotanya? Yang telah membelah sungai-sungainya? Yang telah menanam pepohonannya? Yang telah tinggal di sana selama beberapa hari dan tertipu oleh kesehatan dan kegesitan mereka, lalu mereka bermaksiat; ke mana mereka? Sungguh demi Allah, saat di dunia mereka berbahagia dengan harta sehingga mereka sering menolak untuk memberi (kini ) mereka menyesal karena telah mengumpulkannya.
Apa yang dilakukan bumi dan pasir terhadap badan dan jasad mereka? Juga apa yang dilkakukan belatung terhadap tulang dan persendian mereka? Di dunia mereka berada dalam kebahagiaan yang terhampar, kasur yang empuk, pelayan yang selalu siap sedia, keluarga yang memuliakan, dan tetangga yang siap mendukung. Jika kamu lewat maka panggil dan serulah mereka jika kalian mau. Suruhlah mereka untuk mendatangkan pasukan mereka dan lihatlah kedekatan tempat tinggal mereka. Tanyakan kepada yang kaya dari mereka apa yang tersisa dari kekayaannya. Tanyakan kepada yang fakir dari mereka apa yang tersisa dari kefakirannya. Tanyakan kepada mereka tentang lidah dan apa yang dibicarakannya. Juga tentang mata dan apa mereka lihat dengannya. Dan tentang kulit yang lembut, wajah yang mempesona, serta tubuh yang sedap dipandang; apa yang dilakukan belatung terhadapnya. Belatung telah menghapus warna, memakan daging, menggerogoti wajah, merusak pesona, mematahkan tulang punggung, memisahkan anggota badan dan mencabik-cabik tiap bagian. Ke mana gundik-gundik dan kubah-kubah mereka? Ke mana pelayan dan budak mereka? Ke mana harta yang telah mereka kumpulkan dan mereka timbun? Demi Allah, mereka tidak membekali diri barang sebuah tempat tidur dan tidak juga tempat untuk bersandar. Mereka tidak menanam pohon untuk mereka. Pun mereka tidak membawa lari mereka menjauhi liang lahad. Sebaliknya mereka menimbunkan pasir dan kerikil ke rumah (kubur) mereka. Bukankah malam dan siang sama saja bagi mereka? Bukankah mereka berada di dalam kegelapan yang pekat? Sungguh mereka telah terhalangi dari amal. Dan mereka telah meninggalkan orang-orang yang mereka cintai. Betapa banyak orang yang dulunya berseri-seri wajah mereka menjadi rusak, jasad mereka terpisah dari leher, tulang-belulang mereka remuk, biji mata keluar dari tempatnya, mulut dipenuhi darah dan nanah, serta binatang-binatang bumi berjalan di tubuh mereka dan memisahkan anggota badan mereka. Kemudian, demi Allah, tidak seberapa lama Allah mengembalikan tulang mereka yang telah menjadi remah-remah. Mereka telah meninggalkan kebun. Mereka berada dalam kesempitan setelah sebelumnya berada dalam kelapangan. Istri-istri mereka menikah lagi. Anak-anak mereka berlalu-lalang di jalanan. Kerabat mereka telah membagi-bagi rumah dan harta warisan. Di antara mereka, demi Allah, ada yang dilapangkan kuburnya yang masih segar, seorang yang mendapatkan dan merasakan kelezatannya.
Wahai yang akan tinggal di kubur esok hari, bagian dunia mana yang menyebabkanmu tertipu? Apakah menurutmu kamu akan abadi hidup di dunia ataukah dunia ini abadi untukmu? Mana rumahmu yang luas? Mana sungaimu yang mengalir deras? Mana pula baju musim panas dan musim dinginmu? Tidakkah kau lihat telah datang padanya kematian dan ia sama sekali tidak bisa menolaknya, sementara ia bermandi peluh, merasakan dahaga yang tak terperi, dan berkelojotan menghadapi sakaratul maut. Keputusan itu telah datang dari langit. Qadha` dan qadar telah datang. Ajal yang tak bisa ditawar telah tiba.
Wahai yang menghibur anak-anak dari tangisnya, wahai yang menghibur sanak kerabat, wahai yang mengkafani mayat dan mengangkutnya, wahai yang menempatkannya di liang lahat dan lalu meninggalkannya (setelah menguburnya), bagaimana kamu akan menghadapi kehidupan yang keras ini? Pada pipimu yang mana bala` itu menerpa? Wahai yang bertetangga dengan kehancuran yang berjalan menuju kematian, apa yang akan dibawa oleh malaikat maut saat aku harus keluar dari dunia? Apa yang dibawanya dari risalah Rabb-ku?”
Dunia ini hanyalah bayangan semu yang segera sirna
‘Umar bin Muhammad al-Makkiy menyatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah berkhutbah sebagai berikut, “Sesungguhnyadunia bukanlah kampung ketenteraman kalian. Ia adalah kampung yang kehancuran ditetapkan oleh Allah atasnya. Allah juga menetapkan perjalanan bagi penghuninya. Betapa banyak orang yang dengan yakin memilih yang sedikit dan segera pergi. Betapa banyak orang yang tinggal menginginkan yang sedikit dan segera lenyap. Maka perbaikilah kendaraan dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai lengah. Dan berbekallah; sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Ketahuilah, dunia ini hanyalah bayangan semu yang segera sirna. Sementara anak Adam di dunia ini berlomba-lomba meraih penyejuk matanya -jika ia dijaga oleh Allah dengan qadar-Nya- dan Allah mendatangkan hari kematiannya, lantas Dia memisahkannya dari usahanya, rumahnya, dan dunianya. Dan Allah bersabar atas kaum yang lain; yang di kampung dan yang di kota. Sesungguhnya kesenangan dunia ini tidak sekadar dengan nudharatnya. Kesenangannya hanya sedikit, sementara kesedihan yang diakibatkannya berkepanjangan.”
Usaid bin Zaid menuturkan bahwa ia pernah bersama ‘Umar bin ‘Abdul’aziz menghadapi sesosok jenazah. Setelah jenazah itu dikuburkan, ‘Umar bin ‘Abdul’aziz mengendarainya bagalnya yang kecil ke area pekuburan. Ia memukulkan cambuk ke bagalnya dan lalu mengucap, “Assalaamu ‘alayka yaa shaahibal qabri (Salam sejahtera atasmu wahai penghuni kubur).” Lalu kata ‘Umar ada yang memanggilnya. Suara itu berbunyi, “Dan semoga keselamatan terlimpah padamu juga, wahai ‘Umar bin ‘Abdul’aziz, kamu mau bertanya apa?” Lantas ‘Umar menjawab, “Tentang yang menempatimu dan tetangga-tetanggamu.”
Suara itu menjawab, “Badan-badan mereka ada padaku. Sedangkan ruh-ruh mereka telah dibawa naik menuju Allah dan aku tidak tahu keadaan mereka.”
“Aku bertanya tentang yang menempatimu dan tetangga-tetanggamu,” kata ‘Umar.
Suara itu menjawab, “Daging telah tercabik, biji mata telah terlepas, kain kafan telah usang, dan jasad telah dimakan (belatung).”
Maimun bin Mihran bercerita bahwa ia pernah pergi ke area pekuburan bersama ‘Umar bin ‘Abdul’aziz. “Ketika ia melihat kuburan ia pun menangis, lantas mengarahkan pandangannya kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Abu Ayyub, ini adalah kuburan leluhurku Bani Umayyah. Sepertinya mereka tidak pernah bersama penghuni dunia dalam menikmati kelezatannya. Tidakkah kau lihat mereka semua terbaring menerima siksa; diliputi bencana; dan tubuh mereka menjadi sarang binatang-binatang bumi?’ Kemudian ia menangis lagi sampai pingsan. Saat siuman ia berkata, ‘Sekarang mari kita pergi. Demi Allah, tidak ada yang mendapatkan nikmat melebihi orang yang akhirnya seperti ini: aman dari adzab Allah.’.”
Shalih bin ‘Abdulkarim menyatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah menulis surat kepada ‘Adiy bin Artha`ah, salah seorang amilnya. “Amma ba’du. Sesungguhnya dunia ini adalah musuh dari wali-wali Allah. Wali-wali Allah adalah bencana bagi dunia, sedangkan musuh-musuh Allah adalah kesayangannya.”
Khutbah Terakhir ‘Umar bin ‘Abdul’aziz
Ya’qub bin ‘Abdurrahman meriwayatkan dari ayahnya bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz menyampaikan khutbah ini dan ini adalah khutbah terakhirnya. Setelah dia memuja dan memuji Allah dia berseru, “Sesungguhnya kalian tidak diciptakan sia-sia dan dibiarkan begitu saja. Sesungguhnya ada masa bagi kalian ketika Allah datang kepada kalian untuk memberi keputusan bagi sekalian manusia sehingga gagal dan celakalah orang yang keluar dari rahmat Allah dan terhalanglah ia dari surga yang luasnya seluas seluruh langit dan bumi. Tidakkah kalian ketahui bahwa esok hari tidak ada yang mendapatkan keamanan selain orang yang berhati-hati dalam mengikuti tuntunan Allah, takut kepada-Nya, serta menukar yang fana dengan yang abadi, yang sedikit dengan yang banyak, dan rasa takut dengan rasa aman? Tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berada di dalam cengkeraman orang-orang yang binasa? Dan akhirnya akan bersama orang-orang yang tersisa? Dan begitulah hingga dunia dikembalikan kepada sebaik-baik pewaris. Setiap hari, pagi dan sore kalian mengumumkan kematian orang-orang yang telah sampai ajalnya, lalu kalian asingkan ia di salah satu belahan bumi, di dalam sebuah liang. Kalian meninggalkannya tanpa hamparan dan tanpa bantal. Ia yang telah meninggalkan dunia dan orang-orang tercinta menuju tanah, siap untuk dihisab, tergadai dengan amalannya, tidak butuh kepada apa yang ditinggal, dan sangat butuh kepada yang akan datang.
Bertakwalah kalian kepada Allah sebelum menjumpai-Nya dan sebelum kematian menjemput. Demi Allah, aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Aku tidak tahu ada orang lain yang lebih banyak dosanya daripada diriku. Maka aku beristighfar kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang kabar kebutuhannya sampai kepada kami hal mana apa yang ada pada kami tidak melapangkannya kecuali aku berharap ia memulainya dariku dan dari orang-orang dekatku sehingga kehidupan kami dan kehidupannya pun sama… Demi Allah, jika sekiranya aku menginginkan kehidupan selain ini, niscaya lidahku akan mengatakannya. Pun aku tahu jalan meraihnya. Akan tetapi telah datang dari Allah al-Kitab yang berbicara dan as-Sunnah yang adil. Allah tunjukkan di dalam keduanya cara mentaati-Nya. Allah melarang di dalam keduanya kemaksiatan kepada-Nya.” Kemudian ‘Umar bin ‘Abdul’aziz mengangkat ujung pakaian atasnya, menangis dan menangis pula orang-orang yang ada di sekitarnya.
Abu Sulaim al-Hudzaliy mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah berkhutbah sebagai berikut, “Amma ba’du. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan kalian sia-sia dan membiarkan urusan kalian begitu saja. Sesungguhnya ada masa bagi kalian ketika Allah datang kepada kalian untuk memberi keputusan bagi kalian. Maka gagal dan celakalah orang yang keluar dari rahmat Allah dan terhalang dari surga yang luasnya seluas seluruh langit dan bumi, dan menukar yang sedikit dengan yang banyak, yang segera pergi dengan yang abadi, dan menukar rasa takut dengan rasa aman? Tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berada di dalam cengkeraman orang-orang yang binasa? Dan akhirnya akan bersama orang-orang yang tersisa? Dan begitulah hingga dunia dikembalikan kepada sebaik-baik pewaris. Setiap hari, pagi dan sore, kalian mengumumkan kematian orang-orang yang telah sampai ajalnya, lalu kalian asingkan ia di salah satu belahan bumi, di dalam sebuah liang. Kalian meninggalkannya tanpa hamparan dan tanpa bantal. Ia yang telah meninggalkan usahanya, berpisah dengan orang-orang tercinta, menuju ke tanah, siap menghadapi hisab, tergadai dengan amalannya, sangat butuh kepada yang akan datang, dan tidak butuh kepada apa yang ditinggalkan.
Bertakwalah kalian kepada Allah sebelum datangnya kematian. Demi Allah, aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Aku tidak tahu ada orang lain yang lebih banyak dosanya daripada diriku. Dan tidaklah sampai kepadaku kabar kebutuhan salah seorang dari kalian kecuali aku ingin memenuhinya semampuku. Dan tidaklah sampai kepadaku kabar kesempitan salah seorang dari kalian terhadapku kecuali aku ingin merubahnya untuknya sehingga kehidupan kami dan kehidupannya pun sama. Demi Allah, jika sekiranya aku menginginkan kehidupan selain ini, niscaya lidahku akan mengatakannya. Pun aku tahu jalan meraihnya. Akan tetapi telah datang dari Allah al-Kitab yang berbicara dan as-Sunnah yang adil. Allah tunjukkan di dalamnya cara mentaati-Nya. Allah melarang di dalamnya kemaksiatan kepada-Nya.”
Kemudian ‘Umar bin ‘Abdul’aziz meletakkan ujung pakaian atasnya di wajahnya lalu menangis dan berteriak. Orang-orang pun menangis semua. Itulah khutbah terakhirnya.
‘Umar menangis dan berkata, ‘Wahai Abu Hazim, bagaimana jika kamu melihatku tiga hari setelah aku dikuburkan? Saat kedua biji mataku telah menggelinding lepas, lidahku telah mengering, perutku telah robek, dan belatung mengerubungi sekujur tubuhku? Pastilah kamu lebih tidak mengenaliku lagi. Sekarang bacakan sebuah hadits yang pernah kamu bacakan dulu sewaktu kita di Madinah!’
Aku pun memenuhinya, ‘Wahai Amirul Mukminin, saya mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian ada jalan yang sulit, penuh rintangan, dan mengkhawatirkan. Tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap orang yang teguh dan punya ketetapan hati.’
‘Umar menangis lama sekali, kemudian berkata, ‘Wahai Abu Hazim, pantaskah bagiku untuk bertekad menempuh jalan itu dengan berharap akan selamat dari rintangannya pada hari itu? Aku tidak pernah yakin dapat menjalani ujian yang menimpaku ini dengan selamat.’ Kemudian keringatnya mengucur deras di hari yang panas. Allah lebih tahu bagaimana keadaannya. Lantas ia tersenyum. Aku buru-buru menimpali ucapannya mendahului orang-orang, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku lihat ada ‘ujub dalam dirimu. Ketika kamu tidur keringat mengucur deras dari tubuhmu hingga basah sekelilingmu, lalu kamu menangis sampai terdengar isakanmu, dan kemudian kamu tersenyum?’
‘Umar bertanya, ‘Wahai Abu Hazim, kamu melihatnya?’ ‘Ya,’ jawabku. Kemudian ‘Umar memberikan penjelasan, ‘Wahai Abu Hazim, ketika kuletakkan kepalaku dan aku tidur, terlihat olehku seakan Kiamat sudah terjadi. Semua makhluk berkumpul. Dikatakan, mereka berbaris 120 shaf memenuhi ufuk. Mereka adalah umat Muhammad saw. Di antara mereka ada 80 shaf yang berjalan tertunduk dua-dua menuju sesosok penyeru. Mereka diseru untuk menjalani hisab. Tiba-tiba ada suara, ‘Mana ‘Abdullah bin ‘Utsman Abu Bakar ash-Shiddiq?’ Ia menjawab, lalu ia diambil oleh malaikat. Ia dihadapkan kepada Rabb-nya lalu dihisab dan ia selamat. Ia dibawa ke arah kanan.
Kemudian giliran ‘Umar dipanggil. Ia dibawa oleh malaikat dan dihadapkan kepada Rabb-nya. Ia dihisab lalu selamat dan diperintahkan menuju surga.
Tiba giliran ‘Utsman diseru. Ia menjawab dan dihisab dengan hisab yang ringan lantas diperintahkan menuju surga. Setelah itu ‘Ali bin Abu Thalib diajukan, dihisab, dan diperintahkan untuk masuk surga. Ketika semakin dekat giliranku aku terjatuh pada tanganku. Lalu didatangkan kaum yang aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Kemudian terdengar seruan, ‘Mana ‘Umar bin ‘Abdul’aziz? Keringat mengucur deras dari tubuhku. Aku ditanya tentang kain, kayu, kulit ari, dan semua permasalahan yang aku putuskan lalu aku diampuni. Setelah itu aku melewati sebujur mayat yang tergeletak. Aku bertanya kepada malaikat, ‘Siapa ini?’
Malaikat menjawab, ‘Kalau kamu mengajaknya berbicara ia akan menjawabmu.’
Aku pun menyentuhnya dengan kakiku. Ia mengangkat kepalanya menengadah ke arahku. Ia membuka kedua matanya dan bertanya, ‘Siapa kamu?’
‘Aku ‘Umar bin ‘Abdul’aziz,’ jawabku.
‘Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?’ tanyanya.
‘Allah memberi anugerah kepadaku, memutuskan untukku dan memutuskan untuk mereka,’ jawabku.
‘Selamat atas apa yang terjadi padamu,’ ucapnya.
Lantas aku bertanya, ‘Siapa kamu?’
‘Aku al-Hajjaj,’ jawabnya, ‘Aku menghadap Allah dan aku dapati Dia sangat berat hukuman-Nya. Aku dibunuhnya dengan segala bentuk pembunuhan. Kini aku di hadapan Allah menunggu keputusan Allah bagi orang-orang yang bertauhid, apakah ke surga ataukah ke neraka.’
Aku pun berjanji kepada Allah ‘azza wa jalla setelah mendengar kisah mimpi ‘Umar untuk tidak memastikan seseorang menjadi penghuni neraka selama ia termasuk orang yang mengucapkan: Laa ilaaha illallaah.”
‘Umar bin ‘Abdul’aziz menangis saat mengingat kematian dan alam kubur
Abu Farwah menuturkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah mengantarkan beberapa jenazah orang-orang Bani Umayyah. Setelah jenazah dishalati dan dikuburkan ‘Umar mempersilakan orang-orang untuk meninggalkan area pekuburan. Sedangkan ia sendiri berlambat-lambat di sana. Sesampainya di rumah kedua matanya memerah dan urat-uratnya tegang. Orang-orang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, Anda datang terlambat. Apa yang menghalangi Anda?” ‘Umar menjawab, “Aku mendatangi area pekuburan orang-orang yang aku cintai, pekuburan leluhurku. Aku ucapkan salam kepada mereka namun tak ada yang menjawabnya.
Ketika kulangkahkan kaki untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan leluhurmu?” “Apa yang terjadi dengan mereka?” tanyaku. Suara itu terdengar menjawab, “Kain kafan telah compang-camping dan belatung telah berpesta.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan kedua mata mereka?” “Apa yang terjadi dengan kedua mata mereka?” tanyaku. Suara itu menjawab, “Daya pandangnya habis dan biji matanya sudah tak tersisa.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang terjadi dengan jasad mereka?” “Apa yang terjadi dengan jasad mereka?” tanyaku. Suara itu menjawab, “Kedua telapak tangan patah pada pergelangannya. Pergelangan tangan patah pada tengah lengan. Lengan patah sampai siku-siku. Kedua pundak terlepas dari kedua sisi. Kedua sisi patah sampai tulang punggung. Tulang punggung patah pada pangkal paha. Pangkal paha patah sampai tengah paha. Paha patah pada lutut. Lutut patah sampai betis. Dan betis terpisah dari telapak kaki.”
Ketika kulangkahkan lagi kakiku untuk pulang kudengar tanah memanggilku, “Wahai ‘Umar, siapkanlah kafan yang tak akan usang!” “Apa itu kafan yang tidak akan usang?” tanyaku. “Yaitu takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya.”
Kemudian ‘Umar menangis dan berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya langgengnya dunia ini sebentar, orang yang terhormat karenanya sebenarnya terhina, orang yang kaya dengannya sebenarnya fakir, orang mudanya akan menjadi tua, dan orang yang hidup di sana akan mati. Oleh karena itu janganlah kalian tertipu oleh kedatangannya sementara kalian tahu bahwa ia akan segera berlalu. Sebenar-benar orang yang tertipulah orang yang tertipu dengannya. (Lihatlah sekarang!) Di mana orang-orang yang telah membangun kota-kotanya? Yang telah membelah sungai-sungainya? Yang telah menanam pepohonannya? Yang telah tinggal di sana selama beberapa hari dan tertipu oleh kesehatan dan kegesitan mereka, lalu mereka bermaksiat; ke mana mereka? Sungguh demi Allah, saat di dunia mereka berbahagia dengan harta sehingga mereka sering menolak untuk memberi (kini ) mereka menyesal karena telah mengumpulkannya.
Apa yang dilakukan bumi dan pasir terhadap badan dan jasad mereka? Juga apa yang dilkakukan belatung terhadap tulang dan persendian mereka? Di dunia mereka berada dalam kebahagiaan yang terhampar, kasur yang empuk, pelayan yang selalu siap sedia, keluarga yang memuliakan, dan tetangga yang siap mendukung. Jika kamu lewat maka panggil dan serulah mereka jika kalian mau. Suruhlah mereka untuk mendatangkan pasukan mereka dan lihatlah kedekatan tempat tinggal mereka. Tanyakan kepada yang kaya dari mereka apa yang tersisa dari kekayaannya. Tanyakan kepada yang fakir dari mereka apa yang tersisa dari kefakirannya. Tanyakan kepada mereka tentang lidah dan apa yang dibicarakannya. Juga tentang mata dan apa mereka lihat dengannya. Dan tentang kulit yang lembut, wajah yang mempesona, serta tubuh yang sedap dipandang; apa yang dilakukan belatung terhadapnya. Belatung telah menghapus warna, memakan daging, menggerogoti wajah, merusak pesona, mematahkan tulang punggung, memisahkan anggota badan dan mencabik-cabik tiap bagian. Ke mana gundik-gundik dan kubah-kubah mereka? Ke mana pelayan dan budak mereka? Ke mana harta yang telah mereka kumpulkan dan mereka timbun? Demi Allah, mereka tidak membekali diri barang sebuah tempat tidur dan tidak juga tempat untuk bersandar. Mereka tidak menanam pohon untuk mereka. Pun mereka tidak membawa lari mereka menjauhi liang lahad. Sebaliknya mereka menimbunkan pasir dan kerikil ke rumah (kubur) mereka. Bukankah malam dan siang sama saja bagi mereka? Bukankah mereka berada di dalam kegelapan yang pekat? Sungguh mereka telah terhalangi dari amal. Dan mereka telah meninggalkan orang-orang yang mereka cintai. Betapa banyak orang yang dulunya berseri-seri wajah mereka menjadi rusak, jasad mereka terpisah dari leher, tulang-belulang mereka remuk, biji mata keluar dari tempatnya, mulut dipenuhi darah dan nanah, serta binatang-binatang bumi berjalan di tubuh mereka dan memisahkan anggota badan mereka. Kemudian, demi Allah, tidak seberapa lama Allah mengembalikan tulang mereka yang telah menjadi remah-remah. Mereka telah meninggalkan kebun. Mereka berada dalam kesempitan setelah sebelumnya berada dalam kelapangan. Istri-istri mereka menikah lagi. Anak-anak mereka berlalu-lalang di jalanan. Kerabat mereka telah membagi-bagi rumah dan harta warisan. Di antara mereka, demi Allah, ada yang dilapangkan kuburnya yang masih segar, seorang yang mendapatkan dan merasakan kelezatannya.
Wahai yang akan tinggal di kubur esok hari, bagian dunia mana yang menyebabkanmu tertipu? Apakah menurutmu kamu akan abadi hidup di dunia ataukah dunia ini abadi untukmu? Mana rumahmu yang luas? Mana sungaimu yang mengalir deras? Mana pula baju musim panas dan musim dinginmu? Tidakkah kau lihat telah datang padanya kematian dan ia sama sekali tidak bisa menolaknya, sementara ia bermandi peluh, merasakan dahaga yang tak terperi, dan berkelojotan menghadapi sakaratul maut. Keputusan itu telah datang dari langit. Qadha` dan qadar telah datang. Ajal yang tak bisa ditawar telah tiba.
Wahai yang menghibur anak-anak dari tangisnya, wahai yang menghibur sanak kerabat, wahai yang mengkafani mayat dan mengangkutnya, wahai yang menempatkannya di liang lahat dan lalu meninggalkannya (setelah menguburnya), bagaimana kamu akan menghadapi kehidupan yang keras ini? Pada pipimu yang mana bala` itu menerpa? Wahai yang bertetangga dengan kehancuran yang berjalan menuju kematian, apa yang akan dibawa oleh malaikat maut saat aku harus keluar dari dunia? Apa yang dibawanya dari risalah Rabb-ku?”
Dunia ini hanyalah bayangan semu yang segera sirna
‘Umar bin Muhammad al-Makkiy menyatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah berkhutbah sebagai berikut, “Sesungguhnyadunia bukanlah kampung ketenteraman kalian. Ia adalah kampung yang kehancuran ditetapkan oleh Allah atasnya. Allah juga menetapkan perjalanan bagi penghuninya. Betapa banyak orang yang dengan yakin memilih yang sedikit dan segera pergi. Betapa banyak orang yang tinggal menginginkan yang sedikit dan segera lenyap. Maka perbaikilah kendaraan dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai lengah. Dan berbekallah; sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Ketahuilah, dunia ini hanyalah bayangan semu yang segera sirna. Sementara anak Adam di dunia ini berlomba-lomba meraih penyejuk matanya -jika ia dijaga oleh Allah dengan qadar-Nya- dan Allah mendatangkan hari kematiannya, lantas Dia memisahkannya dari usahanya, rumahnya, dan dunianya. Dan Allah bersabar atas kaum yang lain; yang di kampung dan yang di kota. Sesungguhnya kesenangan dunia ini tidak sekadar dengan nudharatnya. Kesenangannya hanya sedikit, sementara kesedihan yang diakibatkannya berkepanjangan.”
Usaid bin Zaid menuturkan bahwa ia pernah bersama ‘Umar bin ‘Abdul’aziz menghadapi sesosok jenazah. Setelah jenazah itu dikuburkan, ‘Umar bin ‘Abdul’aziz mengendarainya bagalnya yang kecil ke area pekuburan. Ia memukulkan cambuk ke bagalnya dan lalu mengucap, “Assalaamu ‘alayka yaa shaahibal qabri (Salam sejahtera atasmu wahai penghuni kubur).” Lalu kata ‘Umar ada yang memanggilnya. Suara itu berbunyi, “Dan semoga keselamatan terlimpah padamu juga, wahai ‘Umar bin ‘Abdul’aziz, kamu mau bertanya apa?” Lantas ‘Umar menjawab, “Tentang yang menempatimu dan tetangga-tetanggamu.”
Suara itu menjawab, “Badan-badan mereka ada padaku. Sedangkan ruh-ruh mereka telah dibawa naik menuju Allah dan aku tidak tahu keadaan mereka.”
“Aku bertanya tentang yang menempatimu dan tetangga-tetanggamu,” kata ‘Umar.
Suara itu menjawab, “Daging telah tercabik, biji mata telah terlepas, kain kafan telah usang, dan jasad telah dimakan (belatung).”
Maimun bin Mihran bercerita bahwa ia pernah pergi ke area pekuburan bersama ‘Umar bin ‘Abdul’aziz. “Ketika ia melihat kuburan ia pun menangis, lantas mengarahkan pandangannya kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Abu Ayyub, ini adalah kuburan leluhurku Bani Umayyah. Sepertinya mereka tidak pernah bersama penghuni dunia dalam menikmati kelezatannya. Tidakkah kau lihat mereka semua terbaring menerima siksa; diliputi bencana; dan tubuh mereka menjadi sarang binatang-binatang bumi?’ Kemudian ia menangis lagi sampai pingsan. Saat siuman ia berkata, ‘Sekarang mari kita pergi. Demi Allah, tidak ada yang mendapatkan nikmat melebihi orang yang akhirnya seperti ini: aman dari adzab Allah.’.”
Shalih bin ‘Abdulkarim menyatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah menulis surat kepada ‘Adiy bin Artha`ah, salah seorang amilnya. “Amma ba’du. Sesungguhnya dunia ini adalah musuh dari wali-wali Allah. Wali-wali Allah adalah bencana bagi dunia, sedangkan musuh-musuh Allah adalah kesayangannya.”
Khutbah Terakhir ‘Umar bin ‘Abdul’aziz
Ya’qub bin ‘Abdurrahman meriwayatkan dari ayahnya bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz menyampaikan khutbah ini dan ini adalah khutbah terakhirnya. Setelah dia memuja dan memuji Allah dia berseru, “Sesungguhnya kalian tidak diciptakan sia-sia dan dibiarkan begitu saja. Sesungguhnya ada masa bagi kalian ketika Allah datang kepada kalian untuk memberi keputusan bagi sekalian manusia sehingga gagal dan celakalah orang yang keluar dari rahmat Allah dan terhalanglah ia dari surga yang luasnya seluas seluruh langit dan bumi. Tidakkah kalian ketahui bahwa esok hari tidak ada yang mendapatkan keamanan selain orang yang berhati-hati dalam mengikuti tuntunan Allah, takut kepada-Nya, serta menukar yang fana dengan yang abadi, yang sedikit dengan yang banyak, dan rasa takut dengan rasa aman? Tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berada di dalam cengkeraman orang-orang yang binasa? Dan akhirnya akan bersama orang-orang yang tersisa? Dan begitulah hingga dunia dikembalikan kepada sebaik-baik pewaris. Setiap hari, pagi dan sore kalian mengumumkan kematian orang-orang yang telah sampai ajalnya, lalu kalian asingkan ia di salah satu belahan bumi, di dalam sebuah liang. Kalian meninggalkannya tanpa hamparan dan tanpa bantal. Ia yang telah meninggalkan dunia dan orang-orang tercinta menuju tanah, siap untuk dihisab, tergadai dengan amalannya, tidak butuh kepada apa yang ditinggal, dan sangat butuh kepada yang akan datang.
Bertakwalah kalian kepada Allah sebelum menjumpai-Nya dan sebelum kematian menjemput. Demi Allah, aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Aku tidak tahu ada orang lain yang lebih banyak dosanya daripada diriku. Maka aku beristighfar kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang kabar kebutuhannya sampai kepada kami hal mana apa yang ada pada kami tidak melapangkannya kecuali aku berharap ia memulainya dariku dan dari orang-orang dekatku sehingga kehidupan kami dan kehidupannya pun sama… Demi Allah, jika sekiranya aku menginginkan kehidupan selain ini, niscaya lidahku akan mengatakannya. Pun aku tahu jalan meraihnya. Akan tetapi telah datang dari Allah al-Kitab yang berbicara dan as-Sunnah yang adil. Allah tunjukkan di dalam keduanya cara mentaati-Nya. Allah melarang di dalam keduanya kemaksiatan kepada-Nya.” Kemudian ‘Umar bin ‘Abdul’aziz mengangkat ujung pakaian atasnya, menangis dan menangis pula orang-orang yang ada di sekitarnya.
Abu Sulaim al-Hudzaliy mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul’aziz pernah berkhutbah sebagai berikut, “Amma ba’du. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan kalian sia-sia dan membiarkan urusan kalian begitu saja. Sesungguhnya ada masa bagi kalian ketika Allah datang kepada kalian untuk memberi keputusan bagi kalian. Maka gagal dan celakalah orang yang keluar dari rahmat Allah dan terhalang dari surga yang luasnya seluas seluruh langit dan bumi, dan menukar yang sedikit dengan yang banyak, yang segera pergi dengan yang abadi, dan menukar rasa takut dengan rasa aman? Tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berada di dalam cengkeraman orang-orang yang binasa? Dan akhirnya akan bersama orang-orang yang tersisa? Dan begitulah hingga dunia dikembalikan kepada sebaik-baik pewaris. Setiap hari, pagi dan sore, kalian mengumumkan kematian orang-orang yang telah sampai ajalnya, lalu kalian asingkan ia di salah satu belahan bumi, di dalam sebuah liang. Kalian meninggalkannya tanpa hamparan dan tanpa bantal. Ia yang telah meninggalkan usahanya, berpisah dengan orang-orang tercinta, menuju ke tanah, siap menghadapi hisab, tergadai dengan amalannya, sangat butuh kepada yang akan datang, dan tidak butuh kepada apa yang ditinggalkan.
Bertakwalah kalian kepada Allah sebelum datangnya kematian. Demi Allah, aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Aku tidak tahu ada orang lain yang lebih banyak dosanya daripada diriku. Dan tidaklah sampai kepadaku kabar kebutuhan salah seorang dari kalian kecuali aku ingin memenuhinya semampuku. Dan tidaklah sampai kepadaku kabar kesempitan salah seorang dari kalian terhadapku kecuali aku ingin merubahnya untuknya sehingga kehidupan kami dan kehidupannya pun sama. Demi Allah, jika sekiranya aku menginginkan kehidupan selain ini, niscaya lidahku akan mengatakannya. Pun aku tahu jalan meraihnya. Akan tetapi telah datang dari Allah al-Kitab yang berbicara dan as-Sunnah yang adil. Allah tunjukkan di dalamnya cara mentaati-Nya. Allah melarang di dalamnya kemaksiatan kepada-Nya.”
Kemudian ‘Umar bin ‘Abdul’aziz meletakkan ujung pakaian atasnya di wajahnya lalu menangis dan berteriak. Orang-orang pun menangis semua. Itulah khutbah terakhirnya.
Pahlawan Neraka
Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.
"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."
"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."
Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.
"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."
"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."
Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.
biodata Ku
Biodata-Ku
Nama : Refi Ghifary Ar rasyid
Tempat /tgl lahir : Payakumbuh /15 Mei 1990
Alamat : Jln. Khatib Sulaiman no. 2 .Sawah Padang, Payakumbuh Barat
Sekolah : MAN 2 Payakumbuh
Hobby : Ber-Nasyid, Basket ball
Nama : Refi Ghifary Ar rasyid
Tempat /tgl lahir : Payakumbuh /15 Mei 1990
Alamat : Jln. Khatib Sulaiman no. 2 .Sawah Padang, Payakumbuh Barat
Sekolah : MAN 2 Payakumbuh
Hobby : Ber-Nasyid, Basket ball
Langganan:
Postingan (Atom)